Lafal sumpah dokter:
”Demi Allah saya bersumpah,bahwa saya akan merahasikan segala sesuatu yang saya ketahui karena perkerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter”.  

Kodeki pasal 13:
”Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang penderita, bahkan setelah penderita itu meninggal dunia”.

Pada Lembaran Negara No. 21 th.1966:
Pasal 1 “Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran”  

Pasal 2 “Pengetahuan tersebut dalam pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada Peraturan-Peraturan ini menentukan lain”  

Pasal 3 “Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah:
● Dokter/Dokter ahli
● Mahasiswa Kedokteran
● Perawat/Bidan
● Petugas Administrasi Kedokteran Forensik/kamar  jenazah”  

Walaupun demikain, rahasia kedokteran dapat dibuka pada keadaan:
1. Terpaksaan
Dasar : KUHP pasal 48:
“Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana”.
2. Ada undang-undang yang mengatur
Dasar : KUHP pasal 50:
“Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana”.
3. Atas permintaan atasan dokter yang memeriksa
Dasar : KUHP pasal 51:
1. Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana.
2. Perintah jabatan tanpa wewenang, tidak menyebabkan hapusnya pidana, kecuali jika yang diperintah, dengan itikad baik mengira bahwa perintah yang diberikan dengan wewenang dan pelaksanaannya termasuk dalam lingkungan pekerjaannya.