Suara parau adalah setiap perubahan kwalitas suara yang menyangkut nada maupun intensitasnya, yang ditera secara obyektif atau subyektif yang disebabkan oleh gangguan fungsional ataupun organik yang lesinya terletak disentral ataupun perifer. Suara parau atau dysphonic bukanlah penyakit, tetapi gejala dari suatu penyakit, yang mungkin sederhana tetapi mungkin juga suatu hal yang sangat serius atau bahkan mengancam jiwa. Umumnya kelainannya terletak pada laring.Kelainan pada laring

Suara terjadi karena tekanan di subglotik, diteruskan melalui celah pita suara yang bergetar, sehingga terbentuk radiasi getaran, hal ini diperkeras oleh organ-organ resonansi diatasnya: hipofaring, orofaring dan nasofaring kemudian getaran keluar dan ditangkap oleh telinga.

Kwalitas dari suara sangat dipengaruhi oleh kinerja dari kedua pita suara, maka gangguan dari 1). Gerak pendekatan (adduksi) kedua pita suara 2). Volume atau ketebalan pita suara 3). Ketegangan pita suara 4). Astenisitas otot pita suara dan 5). Bentuk pita suara akan menyebabkan perubahan kwalitas suara atau disfonia. Disamping itu dapat juga dipengaruhi pula oleh gangguan susunan syaraf sentral, yang mengatur perintah yang diterima oleh laring dan gangguan pengaturan atau transmisi impuls afferen dan efferen dari sentral ke pita suara, bisa menyebabkan terjadinya disfonia, meskipun secara morfologis tidak ditemukan adanya kelainan dipita suara.

Tatalaksananya terdiri dari tatalaksana umun dan khusus. Tatalaksana umum 1). Istirahat suara, mengurangi penggunaan suara, terutama dengan nada dan intensitas yang dipaksakan. 2). Vocal hygiene, seminim mungkin beban ke- pita suara, misal “silent cough”. 3). Penghentian rekurensi, menghentikan rokok, mengubah pola hidup (life style). Dan tatalaksana khusus dengan eradikasi infeksi dan inflamasi dengan  pemberian antibiotika dan anti-inflamasi (steroid).