Kejang demam merupakan bentuk kejang yang paling sering dijumpai pada anak, bersifat benigna, tidak menyebabkan gangguan neurologi atau kematian. Verity dkk dalam suatu penelitian di Inggris pada tahun 1970 hingga 1975 mendapatkan prevalensi kejang demam sebesar 2,3%. Di Jepang, Tsuboi tahun 1974-1980 mendapatkan prevalensi kejang demam yang lebih tinggi yaitu sebesar 8,3%. Eka dkk pada tahun 1999-2001 di RS Moh. Hoesin Palembang mendapatkan 429 penderita kejang demam, terutama pada usia 12-17 bulan. Masloman dkk pada tahun 1997-2001 di RSUP Manado mendapatkan 327 penderita kejang demam dengan usia terbanyak 2-4 tahun.

Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (> 380C rectal) yang disebabkan oleh proses ekstrakranial, tanpa infeksi SSP dan tanpa gangguan elektrolit.

Kejang demam dibagi menjadi dua, yaitu kejang demam sederhana (Simple febrile seizure) dan kejang demam kompleks (Complex febrile seizure). Pembagian ini penting karena bentuk bangkitan menentukan risiko kemungkinan kerusakan otak, berulangnya kejang, menjadi epilepsy; disamping itu penting juga untuk menentukan penatalaksanaan yang harus dilakukan. Dikatakan kejang demam sederhana bila kejang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Dan dikatakan kejang demam kompleks bila ada salah satu dari kejang lebih dari 15 menit, kejang fokal atau parsial satu sisi atau kejang umum yang didahului kejang parsial, atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam atau kejang berulang lebih dari dua kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar. 80% kejang demam merupakan kejang demam simplek.

Kejang demam kemungkinan akan berulang, bila: ada riwayat kejang demam dalam keluarga, usia kurang dari 12 bulan, temperature yang rendah saat kejang dan cepatnya kejang setelah demam. Bila keseluruhan ini ada kemungkinan kejang demam akan berulang 80%, sedangkan bila tidak terdapat factor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10-15%. Kemungkinan besar berulangnya kejang demam adalah pada tahun pertama.

Evaluasi anak dengan kejang demam, antara lain adalah singkirkan kemungkinan infeksi intracranial, anjuran untuk dilakukan LP, MRI lebih baik dari CT Scan pada kasus kejang lama atau fokal, EEG dilakukan pada GEFS+ atau pada kejang demam tak khas.

Penatalaksanaan kejang demam ada 2, yaitu pengobatan pada saat kejang  dan pengobatan paska kejang.

1. Penatalaksanaan pada saat kejang

Semua penderita yang datang dalam keadaan kejang, atasi kejang dengan diazepam rectal atau parenteral, sementara itu ABC-nya harus bagus, longgarkan pakaian, anak diletakkan dalam posisi semi trendelenberd dengan kepala dimiringkan untuk mencegas apirasi bila muntah + 3 jika (jika panas, koreksi dengan antiperetik; jika kejang lebih 30 mnt, koreksi dengan kortikosteroid; jika ada tanda-tanda herniasi, koreksi dengan manitol 20%).

2.  Penatalaksanaan paska kejang

Tentukan, apakah kejang demam ini membutuhkan pengobatan rumatan atau hanya cukup dengan pengobatan intermiten bila demam. Bila kejang lebih 30 mnt atau ada defisit neurologis sebelum dan sesudah kejang atau kejang fokal atau ada riwayat keluarga epilepsi; berikan pengobatan rumatan. jika tidak ada point-point di atas, cukup berikan pengobatan intermitent bila demam.

kejang-demam

Kasus
Seorang anak laki-laki umur 3 tahun 2 bulan BB 14 kg MRS dengan keluhan utama Kejang dan keluhan tambahan demam tinggi. Dari anamnesis didapatkan:

Sejak ± 2 hari SMRS, penderita menderita batuk dan pilek, tidak mau makan karena sakit saat menelan. Penderita juga sulit minum, demam ada tidak terlalu tinggi, diberi obat bodrex anak lalu demam hilang.
Sejak ± 1 hari SMRS, penderita demam mendadak tinggi, terus menerus, menggigil tidak ada, mengigau tidak ada, kesadaran menurun tidak ada, muntah tidak ada, kejang tidak ada, demam disertai batuk, tidak berdahak, pilek ada, sesak nafas tidak ada, nafsu makan menurun ada karena sulit menelan, gelisah tidak ada. Penderita kemudian memakan bodrex anak dan demamnya turun.

Sekitar 3 jam SMRS penderita mengeluh demam tinggi lagi, penderita kemudian berobat ke puskesmas, diberi obat, dan pulang. Ketika sampai di rumah belum sempat minum obat penderita mengalami kejang, frekuensi empat kali, lama setiap kejang lima menit, dalam selang waktu 30 menit, kejang umum tonik klonik, saat kejang penderita sadar, setelah kejang penderita sadar. Batuk ada, tidak berdahak, pilek ada, sesak nafas tidak ada, muntah tidak ada, BAB biasa, BAK biasa, lalu penderita ke bidan, tidak diberi obat dan langsung dianjurkan pergi ke Rumah Sakit.

Silakan Analisis Kasus diatas….